Perasaan yang Rumit

 

Pesan singkat yang rumit


    Andai aku berani mengajakmu kemarin, untuk kita bernyanyi dan menari di bawah mentari, agar aku tak tertati seperti yg ada di hati, ku coba memberitahu agar kau mengerti aku selalu menanti kau memberikan reaksi, aku tak ingin menutupi namun kau buat ku tak berani, karena kau hanya ingin ditemani dan diakhir ku hanya menyesali. Ingin hati mencari waktu yang tepat tapi tak kudapati, kusisipkan sedikit waktuku menunggumu diselipkan sedikit harapan kau datang walau sekedar menepi.

    Cobalah kemari kau akan mengerti, tanpa kau mencari kau kan dapati hati yang berapi, sepeti Merapi menahan erupsinya yang takkan berhenti meluap. Meninggalkan luka bagi orang yang mengenainya atau hanya kenangan bagi orang yang melihatnya ini terasa sangat nyata namun kataku tak mampu menjelaskan kusudahi memikirkannya, ku hampir tak mengerti dan ku  hampir tak menyadari arti sekedar mengagumi atau sudah mencintai bahkan ingin memiliki :v

    Sudah cukup lama masa itu berlalu dengan ingatan yang masing jelas di kepala, kini aku mulai mengerti cara kita menyikapi lah yang salah, entah aku yang kurang sabar atau kau yang menghindar. 

================================================
secara tidak langsung alam selalu mengajarkan segala hal dengan tepat, dibandingkan kepergianmu senja lebih paham cara berpamitan, tanpa kata apapun aku tau dia akan kembali dan pergi pada waktunya, namu aku paham betul, tiada guna menghabiskan waktuku dengan masa lalu karena tugasku merancang kembali masa depan.

Aku mulai membuat karya baru untuk bisa perlahan melupakan yang lalu, kusiapkan kopiku hingga aku benar" mencanduinya. Setelah sembuh aku bertaruh untuk tidak mencintai siapapun, namun hadirmu membuatku kalah telak.
bagaimana ini... bagaimana bisa aku melupakanmu mengingatmu saja sama seperti mencandui kopi. maafkan kata"ku yg jujur ini tolong abaikan saja.
Walau memang benar kopiku pahit tapi meminumnya adalah keputusanku sama saja cerita kita aku mulai mencandui pahit itu, kadang setelah di logikakan saya merasa bodoh jika saya bandingkan dengan teman saya namun saya membohongi diri lagi dengan kata "rasa syukur bukan karena tidak pernah puas tapi karena intetvensi dari diri terhadap pencapaian orang lain". itu yang ku temukan di peristiwa kemarin. Jadi terimakasih atas hadirmu kemarin kutinggalkan rasa syukurku bukan luka. agap saja tulisan ini tulisan semi encryp dari saya karena penyuratan yg tidak objective dan tidak to the point. 

"jangan bertanya akan kah kau datang ke pestaku,tapi ajaklah aku ketika kamu sudah mencetak undanganmu"

Komentar

Postingan populer dari blog ini